GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di ...

Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di ...

Kompas.com/Silvita Agmasari Azmi Abubakar (46) di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang diririkannya tahun 2011.����������������������������������������������������������…

Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di ...

Azmi Abubakar (46) di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang diririkannya tahun 2011.Kompas.com/Silvita Agmasari Azmi Abubakar (46) di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang diririkannya tahun 2011.

JAKARTA, KOMPAS.com - Azmi terkejut ketika membuka buku 'Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah Perjalanan Budaya' terbitan Initisari Mediatama. Di bab pembuka 'Menjadi Peranakan Tionghoa' ada foto hitam putih yang menampilkan barisan orang Tionghoa zaman lampau berpakaian gaya Eropa.

Di atas barisan orang tersebut, terdapat papan nama besar dalam aksara Mandarin. Tulisan, bentuk aksara, dan ukur an papannya sama persis dengan yang ia gantung di atas pintu Museum Pustaka Peranakan Tionghoa miliknya.

Baca juga : Indonesia di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Papan tersebut adalah papan organisasi modern Tionghoa pertama di Indonesia, Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). Sebuah organisasi yang didirikan oleh para tokoh Tionghoa intelektual tahun 1900.

Organisasi ini juga menjadi cikal bakal berdirinya sekolah-sekolah Tionghoa di Hindia Belanda dan penyebutan nama Tionghoa, yang merujuk pada etnis peranakan Tiongkok yang lahir dan tinggal di Indonesia.

"Saya tidak tahu ternyata itu papan bersejarah. Kaget saya lihat foto itu. Saya sampai terharu," kata Azmi ditemui di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (13/3/2018).

Azmi Abubakar (46) adalah pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang dibuka sejak 2011. Azmi yang berdarah Aceh selama puluhan tahun mengumpulkan literatur Tionghoa agar dap at diakses oleh seluruh masyarakat.

Foto anggota Tiong Hoa Hwee Kwan, organisasi modern Tionghoa pertama di Hindia Belanda.Kompas.com/Silvita Agmasari Foto anggota Tiong Hoa Hwee Kwan, organisasi modern Tionghoa pertama di Hindia Belanda.

"Saya cuma bilang sama teman-teman di awal. Kalau lihat papan nama besar aksara Mandarin tolong kabari. Saya butuh untuk papan nama museum," kata Azmi.

Sampai suatu saat ada temannya yang menelpon, melihat papan nama besar dari kayu jati di Solo, Jawa Tengah. Pergilah Azmi ke Solo, menuju pedagang yang dimaksud.

"Sampai sana pedagangnya bilang papannya masih ada tapi sedikit retak. Dia taruh di rumah karena sudah lama tidak laku," jelas Azmi.

Sepanjang jalan pulang dari Solo dengan kereta api, ia cuma berharap papan nama besar yang dibawa tersebut bukan bertuliskan rumah abu.

&qu ot;Saya tidak bisa baca tulisannya. Pedagangnya juga tidak bisa," kata Azmi.

Sampailah ia di Serpong, dan ia pajang papan nama tersebut di depan ruko, lokasi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Baca juga : Kisah John Lie, Pahlawan Indonesia Keturunan Tionghoa

"Suatu pagi ada engkoh-engkoh lari pagi, ia datangi saya tanya dapat dari mana papannya. Lalu engkoh itu bilang itu tulisannya Tiong Hoa Hwee Kwan. Saya sih iya-iya saja, namanya juga orang tua," kata Azmi yang mengaku tak percaya di awal. Sampai suatu ketika ia ikut seminar bertema Tionghoa dan bertemu dengan buku yang memuat foto THHK tersebut.

Pulang dari seminar tersebut, Azmi langsung mencabut papan nama tersebut dan menaruhnya di dalam museum. Kini papan berusia 118 tahun tersebut menjadi koleksi berharga Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang tidak akan ia jual.

THHK sendiri merupakan organisasi modern yang mendorong lahirnya organisasi pergerakan nasional modern di Hindia Belanda. Salah satunya Boedi Oetomo yang berperan besar dalam kemerdekaan RI.

THHK yang juga menjadi sekolah swasta pertama tanpa pengantar bahasa Belanda. Mendorong berdirinya sekolah-sekolah lain untuk mandiri, mengajarkan ilmu kepada anak-anak tanpa campur tangan kolonial.


Berita Terkait

6 Fakta Menarik Soal Makam Tionghoa yang Belum Anda Ketahui

Nisan di Kuburan Tionghoa yang Bercerita

Libur Imlek, Ini 3 Tempat Wisata Tanah Leluhur Tionghoa di Palembang

Makan Bandeng Saat Imlek, Hanya Ada di Tradisi Tionghoa Indonesia

2 Makanan Ini Tak Dimakan Etnis Tionghoa saat Imlek, Apa Saja?

Terkini Lainnya

4 Wisata Sejarah di Ternate, Kota 1.000 Benteng

4 Wisata Sejarah di Ternate, Kota 1.000 Benteng

Travel Story 15/03/2018, 21:25 WIB Ke Mana Destinasi Favorit Wisatawan Jepang?

Ke Mana Destinasi Favorit Wisatawan Jepang?

News 15/03/2018, 20:20 WIB Cari Paket Liburan ke Jepang? Coba Mampir ke Club Med Travel Fair

Cari Paket Liburan ke Jepang? Coba Mampir ke Club Med Travel Fair

News 15/03/2018, 19:20 WIB Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di Indonesia

Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di Indonesia

Travel Story 15/03/2018, 18:15 WIB 5 Wisata Alam Menakjubkan di Ternate, Maluku Utara

5 Wisata Alam Menakjubkan di Ternate, Maluku Utara

Travel Story 15/03/2018, 16:31 WIB Kisah John Lie, Pahlawan Indonesia Keturunan Tionghoa

Kisah John Lie, Pahlawan Indonesia Keturunan Tionghoa

Travel Story 15/03/2018, 15 :38 WIB Segarnya “Bir” Kesukaan Sultan Yogyakarta

Segarnya “Bir” Kesukaan Sultan Yogyakarta

Food Story 15/03/2018, 14:28 WIB Ini 3 Festival Unggulan di Maluku Utara

Ini 3 Festival Unggulan di Maluku Utara

Travel Tips 15/03/2018, 13:45 WIB 3 Resto Tempat Santap Kuliner Favorit Raja-raja Keraton

3 Resto Tempat Santap Kuliner Favorit Raja-raja Keraton

Food Story 15/03/2018, 12:52 WIB Mencicipi Okonomiyaki Khas Kansai di Tokyo

Mencicipi Okonomiyaki Khas Kansai di Tokyo

Jepang Terkini 15/03/2018, 11:18 WIB Mencicip Rasa Hidangan Kesukaan Raja-raja Keraton Yogyakarta

Mencicip Rasa Hidangan Kesukaan Raja-raja Keraton Yogyakarta

Food Story 15/03/2018, 09:07 WIB Begini Cara Membuat Daging Steak yang Juicy

Begini Cara Membuat Daging Steak yang Juicy

Food Story 15/03/2018, 08:19 WIB Indonesia di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Indonesia di Museu m Pustaka Peranakan Tionghoa

Travel Story 15/03/2018, 07:32 WIB Ajakan Travel Mates Mengunjungi Destinasi Wisata Tak Populer di Jogja

Ajakan Travel Mates Mengunjungi Destinasi Wisata Tak Populer di Jogja

News 15/03/2018, 06:25 WIB Ini Komik Pertama di Indonesia, Ternyata Sudah Terbit Tahun 1930

Ini Komik Pertama di Indonesia, Ternyata Sudah Terbit Tahun 1930

Travel Story 14/03/2018, 22:15 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Jateng

Tidak ada komentar