GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Kondisi Umat Islam Memprihatinkan

Kondisi Umat Islam Memprihatinkan

Opini Kondisi Umat Islam Memprihatinkan GAMBARAN umum mengenai kondisi umat Islam dalam dekade terakhir dapat kita lihat pada salah satu pandanganJumat, 4 Mei 2018 08:42ISTTuan Guru B…

Kondisi Umat Islam Memprihatinkan

Opini

Kondisi Umat Islam Memprihatinkan

GAMBARAN umum mengenai kondisi umat Islam dalam dekade terakhir dapat kita lihat pada salah satu pandangan

Kondisi Umat Islam MemprihatinkanISTTuan Guru Bajang, Tu Sop, dan aktivis ormas Islam, pada acara Tabligh Akbar Haul Ke-3 Sirul Mubtadin, di lapangan Blang Asan, Bireuen

Oleh M. Hasbi Amiruddin

GAMBARAN umum mengenai kondisi umat Islam dalam dekade terakhir dapat kita lihat pada salah satu pandangan seorang ulama yang memiliki pangkat Professor hidup di Amerika Serikat, mengajar di beberapa universitas dan pemimpin beberapa lembaga Islam yaitu Profesor Isma’il Raji Al-Faruqi.

Menurut Al-Faruqi, umat Islam pada saat ini berada di anak tang ga bangsa-bangsa terbawah. Bahkan, bukan hanya itu tetapi kaum muslimin telah dikalahkan, dibantai, dirampas negerinya dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya. Umat Islam difitnah dan dijelek-jelekkan di hadapan seluruh bangsa-bangsa. Umat Islam dituduh agresif destruktif, mengingkari hukum, teroris, biadab, fanatik, fundamentalis, kuno dan menentang zaman, sehingga umat Islam menjadi sasaran kebencian bagi orang-orang non Muslim.

Sangat memprihatinkan
Apabila kita berusaha membaca dari berbagai berita yang menggambarkan situasi negara-negara masyarakat Muslim selama ini, gambaran seperti diungkapkan Al-Faruqi ternyata memang ada. Di sisi lain, kenyataan yang sangat memprihatinkan lagi adalah dunia Islam terus terjadi pertentangan, sesama, perpecahan, pergolakan dan peperangan. Kekayaan yang dimiliki negara-negara Muslim ini berlimpah, tetapi rakyatnya miskin-miskin. Negara Islam terluas dibandingkan dengan negara-negara lain, terkaya, akan tetapi masyarakatnya rata-rata tertinggal.

Hal itu karena di kalangan umat Islam terus terjadi pertentangan, percekcokan, perpecahan bahkan peperangan, maka umat Islam mudah dikuasai, dijajah, sampai sekarang. Satu di antara sebab umat Islam terpecah-pecah karena selalu ingin membanggakan suku atau kelompoknya dari kelompok lain, ingin hegemoni pada suku atau kelompok lain.

Karena di desa-desa terus terjadi kemiskinan, maka mereka berbondong-bondong pindah ke kota. Tetapi di kota pun kemudian mereka juga hidup di gubuk-gubuk, karena mereka juga tidak memiliki skill untuk menghadapai kehidupan kota. Kekayaan minyak dan gas bumi yang telah diperkenankan Allah Swt kepada beberapa negara Islam, ternyata tidak merupakan nikmat seperti seharusnya, karena pengolahannya terpaksa diserahkan kepada tenaga asing --non Muslim-- dan kemudian oknum di pemerintah masing-masing negara berfoya-foya dengan kekayaan tersebut. Bahkan kekayaan mereka disembunyikan dengan menyimpan uang di bank-bank luar neger i. Hal ini juga sesungguhnya memperkuat kelompok yang tidak menghendaki umat Islam hadir untuk memimpin dunia. (Ismai’il Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan, terj. Anas Mahyuddin, Bandung: Penerbit Pustaka, hal. 1-2).

Bagi seorang Muslim, seharusnya Memiliki cita-cita menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Karena Islam yang rahmatan lil ‘alamin bukan hanya memberi kesejahteraan dan kenyamanan hidup untuk umat Islam saja, tetapi akan menjadi penyejuk bagi semua umat manusia yang ada di permukaan bumi, bahkan juga alam-alam sekelilingnya. Jika tidak mempunyai cita-cita tersebut maka umat Islam tidak pernah menjadi umat yang disenangi kehadirannya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainal Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), mengungkapkan pentingnya fokus agenda periortas umat. Umat perlu memahami apa-apa yang menjadi agenda prioritas umat yang baik. TGB menyatakan umat Islam memiliki kepentingan bersama dalam p ersatuan kemajuan bangsa. Insya Allah kalau sudah mempunyai semangat persatuan agenda umat Islam akan lebih mudah kita laksanakan. Umat Islam selanjutnya perlu memprioritaskan agenda keummatan yang penting bagi kemaslahatan masyarakat. Salah satunya terkait ekonomi kerakyatan.

Dengan jumlah umat Islam yang besar dan mayoritas kemajuan Indonesia sangat tergantung pada umat Islam. Mengisi setiap ruang yang khidmat di republik ini. Menurutnya umat Islam tak terus menerus memperbincangkan perbedaan dari sisi ibadah seperti membaca kunud, jumlah rakaat tarawih, membaca zahar atau sir. Sebagaimana tingginya toleransi umat Islam dengan umat non muslim, tolerasi dan saling menghargai sesama umat Islam itu sendiri, seharusnya juga dibangun sikap saling menghormati dan berlapangkan dada jika ada perbedaan. Jika sudah ada semangat persatuan, agenda umat akan lebih mudah kita laksanakan. Umat Islam perlu menumbuhkan dan memahami apa yang menjadi prioritas umat dengan baik.

Sesuatu yang perlu didahulukan ya didahulukan dan sesuatu yang dirasakan yang tidak terlalu mendesak bisa ditunda. Persatuan umat Islam merupakan sumber energi yang sangat besar bagi kemajuan. Di masa penjajahan Belanda umat Islam dibiarkan tumbuh bermacam-macam organisasi umat termasuk mendirikan masjid-masjid. Tetapi kalau umat sudah berkumpul dan bersatu maka diusahkan pecah agar mudah mereka mengasai. (Tausiah Tuan Guru Bajang (TGB) Muhamamd Zainul Majdi, di Pondok Pesantren al-Mizan Kabupaten Lamongan, Republika co.id, 28/4/2018).

Apa agenda ke depan?
Lalu apa agenda dakwah kita ke depan? Sebagaimana pembagian ilmu yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali ada ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah, maka dakwah awal harus kita fokuskan yang fardhu ‘ain.

Umat dan bangsa yang alamnya subur makmur ini masih diimpit banyak beban berat di punggungnya. Ratusan ribu hingga jutaan anak-anak negeri harus mengais nasib di luar negeri dengan segala beban dan derita, hatta har us meregang nyawanya. Meski banyak yang sukses tetaplah rindu rumah kampungnya.

Jika di negerinya sendiri terbuka lapangan kerja yang leluasa maka mereka tidak lah akan pergi mengadu nasib di negeri orang. Sementara anak-anak bangsa di tanah air harus mulai bersaing dengan tenaga asing yang berbondong-bondong membanjiri negeri ini dengan segala kemudahannya. Umat dan bangsa ini masih tertinggal secara ekonomi, dari yang di bawah garis kemiskinan hingga ambang batas hidup yang pas-pasan.

Jumlah mereka mayoritas, tetapi rentan dalam ke-dhuafa-an dan dikalahkan oleh segelintir penduduk yang menguasai mayoritas dan aset dan kekayaan negeri nyaris tak terbatas tanpa kehadiran negara. Memang umat dan rakyat di negeri ini pandai hidup prihatin dan tahan menderita, tetapi bukan berarti mereka nyaman dalam derita kemiskinannya (Haedar Nashir, “Pertaruhan Para Pemimpin”, Republika, 29/4/2018).

* Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA., Guru Besar UIN Ar-Ran iry Banda Aceh. Email: hasbi_amiruddin@yahoo.com

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 NTB

Tidak ada komentar