GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Tiga cagar biosfer magnet wisata baru Indonesia

Tiga cagar biosfer magnet wisata baru Indonesia

Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok. | Manloi /Shutterstock Pertemuan internasional mengenai cagar…

Tiga cagar biosfer magnet wisata baru Indonesia

Taman Nasional  Gunung Rinjani, Lombok.
Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok. | Manloi /Shutterstock

Pertemuan internasional mengenai cagar biosfer akan digelar pada bulan Juli 2018 mendatang di kota Palembang, Sumatera Selatan. Indonesia bersiap mengajukan tiga nama cagar biosfer baru untuk menambah 11 lokasi lain yang sudah terlebih dahulu terdaftar.

Cagar biosfer adalah suatu kawasan konservasi ekosistem berupa daratan atau pesisir yang keberadaannya diakui dunia internasional menjadi bagian dari program Man and Biosphere dari Badan Pendidikan dan Kebudayaan (MAB UNESCO) organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa.

"Nominasi tiga cagar biosfer yaitu Berbak Sem bilang di Sumatera Selatan dan Jambi, Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Taman National Rinjani di Nusa Tenggara Barat," ujar Ketua Komite Nasional MAB Unesco Enny Sudarmonowati dinukil dari Tempo.

Secara fisik cagar biosfer mencakup dari tiga zona, yakni zona inti, zona penyangga dan zona transisi.

Kawasan zona inti merupakan daerah yang dilindungi untuk konservasi serta keanekaragaman hayati dan ekosistem. Hanya diperbolehkan kegiatan penelitian yang tidak merusak di zona ini atau kegiatan lain yang berdampak lingkungan rendah, seperti untuk pendidikan.

Lalu, zona penyangga, merupakan area yang mengelilingi zona inti. Zona ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak mengeksploitasi sumber daya alam, seperti termasuk juga pendidikan, rekreasi, ekowisata dan penelitian.

Kemudian, zona transisi merupakan area mengelilingi zona penyangga. Kegiatan pertanian, pemukiman dan pemanfaatan lain diperbolehkan dalam zon a ini.

Cagar biosfer, sebagai kawasan yang menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan akan dinilai oleh berbagai negara sebelum diputuskan masuk ke dalam daftar yang diakui dunia.

Ketiga nama taman nasional yang akan diajukan oleh Indonesia dalam ajang tersebut memiliki keunikan sendiri, misalnya, Taman Nasional Berbak memiliki ekosistem yang khas, yaitu ekosistem hutan rawa gambut dan ekosistem hutan rawa air tawar yang terluas di Asia Tenggara.

Tumbuhan dan satwa sangat beragam di sana, di antaranya. 28 spesies mamalia, seperti Harimau Sumatera (phantera tigris sumatraensis), 229 jenis tumbuhan obat, 27 jenis anggrek hutan dan ragam hayati lainnya.

Jika beruntung pada bulan Oktober sampai Februari, maka pelancong dapat menyaksikan ribuan burung yang terbang migrasi dari wilayah Siberia menuju Australia singgah di Pantai Cemara.

Pelancong juga dapat meluangkan malam dengan meng ikuti crocodile safari night yaitu melihat kehidupan dua jenis reptil langka yang hidup di air tawar Berbak, yaitu buaya katak (crocodilus porosus) dan buaya ainyulong (tomistoma schelegeli). Jangan lupa untuk menyertakan pawang buaya lokal dan petugas Taman Nasional Berbak saat mengikuti kegiatan ini.

Untuk mencapai lokasi zona pemanfaatan terdekat, yaitu Air Hitam Dalam dapat ditempuh lewat jalur darat dan sungai dari kota Jambi dengan waktu kurang lebih 90 menit.

Kemudian, di wilayah Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu, Kalimantan Barat terdapat dua eksosistem yaitu kawasan hutan rendah, dan kawasan hutan rawa serta tidak ketinggalan danau Sentarum yang punya karakteristik unik. Danau ini punya siklus kering selama dua bulan dan kemudian akan kembali tergenang selama 10 bulan.

Kawasan taman nasional Betung Kerihun ini memiliki delapan tipe ekosistem hutan dataran rendah, sekunder tua, dipterocarpus, sub-montana, dan montana. Area ini menjadi habitat bagi 48 jenis mamalia, 301 jenis burung (151 genus dan 36 famili), 170 jenis serangga, 112 jenis ikan, 52 jenis reptil, 51 jenis amfibi, 24 jenis satwa endemik Kalimantan, dan 15 jenis burung migran.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan ini antara lain menjelajahi hutan sambil menyusuri sungai yang mengalir di sekitar kawasan taman nasional. Pelancong dapat pula menikmati rekreasi alam seperti kemping di tengah hutan tropis tersebut, juga melakukan wisata olah raga air adalah pilihan lain semisal rafting, whitewater trekking dan tubing.

Selain potensi wisata alam, wisata adat dan budaya masyarakat Dayak Iban yang bermukim di daerah hulu tentu menjadi daya tarik budaya tersendiri. Satu-satunya kendala mungkin adalah jarak tempuh yang jauh dari kota Pontianak ke Putussibau sekitar 12 jam berkendara lewat jalur darat.

Sementara kawasan taman nasional Gunung Rinjani sudah lebih banyak dikenal para pendaki. Kawasan ini menjadi rumah bagi 53 jenis fauna, dengan hewan musang sebagai maskot. Lokasi ini berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.

Tidak hanya keragaman fauna, di kawasan gunung berapi aktif ini juga terdapat kaldera yang luasnya sekitar 3.500 x 4.800 meter persegi yang memanjang ke arah Timur dan Barat.

Sumber: Google News | Berita 24 NTB

Tidak ada komentar