www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggaran Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Menilik Pilpres 2019 Lewat Pilkada Jateng 2018

Posted by On 16.03

Menilik Pilpres 2019 Lewat Pilkada Jateng 2018

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono sempat bersalaman dan saling menyapa saat keduanya hadir di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017). Kedua tokoh tersebut hadir di istana untuk mengikuti upacara peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia ke-72. Anung Anindito (Dokumentasi Susilo Bambang Yudhoyono) Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono sempat bersalaman dan saling menyapa saat keduanya hadir di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017). Kedua tokoh tersebut hadir di istana untuk mengikuti upacara peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia ke-72.


KEMBALINYA Gubernur petahana Ganjar Pranowo untuk maju dalam pertarungan politik di Jawa Tengah (Jateng) sebetulnya tidak terlalu mengejutkan.

Selain elektabilitasnya masih yang tertinggi, kinerjanya mengkoordinasikan pembangunan Jawa Tengah melalui dana pusat dan daerah patut diapresiasi.

Kinerja Ganjar bisa dilihat di bidang pembangunan infrastruktur energi hingga transportasi ke wilayah yang masih tertinggal. Ganjar juga memiliki sejumlah pencapaian reformasi regulasi maupun birokrasi.

Dalam hal reformasi regulasi, saya mencatat terdapat dua regulasi yang diinisiasi oleh Ganjar yang kemudian berlaku secara nasional.

Pertama, hak atas tanah bengkok yang sebelumnya harus masuk kas desa kini sudah menjadi hak kepala desa.

Tak banyak yang tahu bahwa perjuangan ini dimulai dari pertemuan para kepala desa se-Jateng dengan Ganjar yang dilarang berangkat ke Jakarta untuk berdemo bersama kepala desa se-Indonesia.

Ganjar meminta para kepala desa membuat surat berisi permohonan revisi Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2014 untuk dibawa langsung kepada Mendagri.

Langkah tersebut kemudian ditiru Gubernur Jatim Soekarwo. Hasilnya Mendagri maupun Presiden menyetujui usulan Jawa Tengah agar hal tersebut berlaku sebagai revisi nasional.

Kedua, aturan penindakan angkutan barang. Tidak hanya aksi gebrak mejanya yang banyak tersiar di media massa, Ganjar lalu mendorong pengetatan aturan tonase truk termasuk mendorong perubahan aturan penindakan angkutan barang.

Lagi-lagi peraturan versi Jateng untuk melarang kendaraan angkutan barang dengan berat muatannya melebihi 25 persen dari jumlah berat yang diijinkan (JBI) ditiru daerah lain seperti Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat dan tentu saja DKI Jakarta.

Bagaimana di tingkat masyarakat bawah?

Lagi-lagi saya mengambil dua conto h program yang paling menarik. Pertama, Kartu Tani yang menjamin distribusi pupuk bersubsidi dan memonitor hasil panen dan pascapanen yang kemudian dijadikan program nasional oleh Presiden Jokowi dengan Jateng sebagai pilot project.

Kedua, kredit usaha rakyat (KUR) untuk usaha mikro kecil menengah dan koperasi (UMKMK) melalui Bank Jateng dengan bunga pinjaman setahun hanya 2 persen.

Maaf, jangan bandingkan dengan KUR tujuh persen yang berlaku nasional mulai tahun ini apalagi dengan bunga pinjaman OK OCE melalui Bank DKI Jakarta yang mencapai 13 persen.

Itu catatan pencapain. Apakah ada catatan yang bakal menghadang laju Ganjar?

Empat isu menghadang Ganjar

Ada empat isu yang potensial diramaikan yaitu proyek semen di Rembang dan Pati, kasus E-KTP, ketidakpuasan aturan alat tangkap di kalangan nelayan, dan harmonisasi mitra koalisi.

Pertama, isu proyek semen. Hemat saya, isu ini tidak akan terlalu berpengaruh karena kuantitas gerakan masyarakat Kendeng cenderung mengecil.

Apakah berpotensi dikelola rival politik? Saya melihat akan sulit bagi rival Ganjar untuk mengambil risiko, misalnya dengan mereplikasi strategi janji palsu menghentikan reklamasi Teluk Jakarta.

Kedua, isu e-KTP. Saya cenderung melihat isu E-KTP akan digoreng rival politik untuk mendegradasi kepercayaan publik terhadap Ganjar yang namanya selalu santer disebut, bahkan sempat masuk dalam surat dakwaaan terhadap bekas Ketua DPR RI Setya Novanto.

Sementara, isu ketiga yaitu ketidakpuasan aturan alat tangkap jenis cantrang di kalangan nelayan pun akan terus digarap rival politik. Salah satu basis politik partai pendukung rival berada di wilayah pesisir utara dan selatan Jateng.

Dalam hal ini Ganjar akan sangat berharap pada peran Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti sebagai regulator karena Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Cantrang akan ber laku efektif per awal tahun ini.

Oktober 2017, Ganjar sudah sempat meminta penundaan penerapan pelarangan dengan alasan belum tuntasnya pembagian pengganti cantrang. Sayangnya, hingga saat ini KKP tetap bersikukuh melarang cantrang.

Jika kemudian demonstrasi nelayan berpotensi sulit dikendalikan, Ganjar punya Taj Yasin yang notabene adalah putra KH Maimoen Zubair, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang yang dikenal memiliki nama besar di Pantura. Yasin diharapkan mampu meredam gejolak para nelayan.

Bagi pendukung gerakan Kendeng, nama KH Maimoen Zubair tentu bukan hal yang asing karena Ketua Dewan Syuro PPP itu tegas mendukung pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang.

Selanjutnya, isu terakhir adalah harmonisasi mitra. Ini bukan persoalan kecil. Benar bahwa untuk pilgub kali ini Ganjar-Yasin didukung koalisi PDI, Nasdem, Demokrat, Golkar, dan PPP dengan total kursi dukungan mencapai 58 kursi DPRD.

Maju menggandeng ge rbong besar adalah tantangan tersendiri mengingat pada Pilgub sebelumnya pasangan Ganjar Pranowo- Heru Sudjatmiko hanya didukung PDI Perjuangan saat menghadapi petahana Bibit Waluyo (sebelumnya didukung PDI) maupun mantan kader PDI, Don Murdono.

Jika ingin berkaca pada sejarah panjang PDI Perjuangan di Jawa Tengah, tanpa perlu partai lain pun Jateng adalah kandang Banteng. Karena praktis, dalam Pilgub se-Jawa dan Bali tahun 2013, hanya Jateng yang sanggup direbut PDI Perjuangan.

Sejak pemilu Indonesia pada 1955, Jateng adalah lumbung suara bagi partai beraliran nasionalis yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI). Tradisi ini terus berlanjut hingga PNI dipaksa berfusi dengan partai nasionalis lain, Kristen, dan Katolik menjadi PDI di masa Orde Baru yang kemudian pada masa reformasi menjadi PDI Perjuangan.

Sejak Pemilu 1999 hingga Pileg 2014, partai berlogo banteng moncong putih adalah kekuatan dominan di Jateng. Tak satupun partai sanggup menggusur termasuk ketika P artai Demokrat berhasil menang pemilu nasional pada 2004 dan 2009.

Kali ini dengan gerbong besar, butuh kerja keras agar seluruh mesin koalisi kompak bekerja satu tujuan apalagi jika kita mengingat ultimatum Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahwa kemenangan Jawa Tengah adalah harga mati.

Menariknya, Pilgub Jawa Tengah tahun ini serupa pilot project menuju Pemilihan Presiden 2019.

Sebagai daerah penting, Jateng menjadi tempat diwujudkannya koalisi PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

Nah, yang terakhir ini lebih menarik. Relasi PDI-P dan Demokrat selama ini terepresentasikan dalam relasi dua pucuk pimpinan kedua pertai yang perang dingin dalam waktu yang panjang. Kini, keduanya berjalan beriringan demi memenangkan calon Gubernur mereka.

Jika berhasil, reuni koalisi Pilgub Jateng pada Pilpres 2019 tentu menarik. Mengingat sudah bukan rahasia lagi, di tengah kesibukan memastikan target pembangunan lima tahun tercapai, Jokowi kini seda ng memilah dan menimbang siapa calon pendampingnya pada Pilpres mendatang.

Agus Yudhoyono? Kenapa tidak!

Berita Terkait

Menilik Pilpres 2019 Lewat Pilkada Jateng 2018Sengkarut Regulasi, Penghambat Presiden Jokowi?Kemerdekaan Catalonia, Trauma Indonesia?Partai-partai Baru Pemilu 2019, Sekadar Penggembira?Misi Menlu Retno, Upaya Jokowi Meneruskan Tradisi Indonesia

Terkini Lainnya

Alasan Stefer Rahardian Geluti Olahraga MMA

Alasan Stefer Rahardian Geluti Olahraga MMA

Olahraga 14/01/2018, 07:00 WIB Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia

Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia

Nasional 14/01/2018, 06:23 WIB Tantangan Menteri Susi dan Pembenahan Danau Sunter

Tantangan Menteri Susi dan Pembenahan Danau Sunter

Megapolitan 14/01/2018, 06:15 WIB Sejumlah Desa di Bima Dilanda Banjir

Sejumlah Desa di Bima Dilanda Banjir

Nasional 14/01/2018, 06:09 WIB  Jadwal Final Thailand Masters

Jadwal Final Thailand Masters

Olahraga 13/01/2018, 23:38 WIB Melihat Keindahan Puri Tri Agung yang Menghadap Laut China Selatan

Melihat Keindahan Puri Tri Agung yang Menghadap Laut China Selatan

Regional 13/01/2018, 22:47 WIB Samb   ut Proliga 2018, Tim Gresik Petrokimia Serius Matangkan Permainan

Sambut Proliga 2018, Tim Gresik Petrokimia Serius Matangkan Permainan

Olahraga 13/01/2018, 22:28 WIB RSUD Syamsudin Autopsi Jenazah Siswa SMAN 3 Kota Sukabumi

RSUD Syamsudin Autopsi Jenazah Siswa SMAN 3 Kota Sukabumi

Regional 13/01/2018, 22:13 WIB Soal Kasus Fredrich, ICW Ingatkan Tidak Ada Profesi yang Kebal Hukum

Soal Kasus Fredrich, ICW Ingatkan Tidak Ada Profesi yang Kebal Hukum

Nasional 13/01/2018, 22:02 WIB Fahri Hamzah Minta Pemerintah Akui Kesa   lahan soal Kebijakan Beras

Fahri Hamzah Minta Pemerintah Akui Kesalahan soal Kebijakan Beras

Nasional 13/01/2018, 21:34 WIB Pesta Sabu, Lima Warga Bima Ditangkap Polisi

Pesta Sabu, Lima Warga Bima Ditangkap Polisi

Regional 13/01/2018, 21:33 WIB Pemerintah Siap Bahas Revisi UU MD3 untuk Tambah Pimpinan DPR-MPR

Pemerintah Siap Bahas Revisi UU MD3 untuk Tambah Pimpinan DPR-MPR

Nasional 13/01/2018, 21:12 WIB Anies: Jangan Cuma Hidup di Jakarta, tetapi Tak Diimbangi Membayar Pajak

Anies: Jangan Cuma Hidup di Jakarta, tetapi Tak Diimbangi Membayar Pajak

Megapolitan 13/01/2018, 21:10 WIB Indonesia Loloskan Tiga Finalis Thailand Masters

Indonesia Loloskan Tiga Finalis Thailand Masters

Olahraga 13/01/2018, 20:59 WIB Polisi Tembak Mati Pelaku Sindikat Narkoba Internasional Asal China

Polisi Tembak Mati Pelaku Sindikat Narkoba Internasional Asal China

Regional 13/01/2018, 20:55 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Jateng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »