www.AlvinAdam.com

Berita 24 Nusa Tenggaran Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Polisi: Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari pipa ...

Posted by On 07.42

Polisi: Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari pipa ...

]]> Polisi: Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari pipa Pertamina

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Minyak tumpah di Balikpapan, lima nelayan tewas

Kepolisian Daerah Kalimantan Timur menyatakan PT Pertamina Refinery Unit 5 Balikpapan merupakan penanggung jawab tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang muncul sejak 31 Maret lalu.

Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Ade Yaya, menyebut tumpahan minyak itu berasal dari pipa Pertamina yang putus di kedalaman 20 meter dari permukaan laut.

Pipa tersebut menjalar dari Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara menuju Balikpapan.

Ade berkata, temuan itu didapatkan investigasi gabungan, antara kepolisian dan tim ahli Pertamina.

"Pertamina menyatakan pipa mereka patah dan kini tengah diperbaiki. Ada tekanan yang ekstrem sehingga menyebabkan pipa putus," kata Ade kepada wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, via telepon, Rabu (04/04).

  • Pencemaran tumpahan minyak di Teluk Balikpapan: 'Sudah tiga hari kami mencium bau solar'
  • 50 ton minyak sawit tumpah di Teluk Bayur, sanksi menanti perusahaan
  • 'Kebenaran akan menang': Perusahaan minyak raksasa vs petani Indonesia

Mesk i kini Pertamina telah mengakui pencemaran Teluk Balikpapan berawal dari pipa mereka yang bocor, proses hukum akan tetap berjalan. Ade mengatakan, penyidik akan terus menggali keterangan dari berbagai pihak.

"Kami akan melakukan rekonstruksi sesuai ketentuan, bahwa ada kejadian, ada korban dan nanti akan merujuk ke tersangka," tuturnya.

Sejauh ini Polda Kaltim telah memeriksa 11 saksi dari sejumlah latar belakang, antara lain pegawai Pertamina, pejabat Ksyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Balikpapan, penduduk sekitar, dan agen kapal Kargo MV Ever Judger 2.

Hak atas foto EPA
Image caption Karyawan PT Pertamina (Persero) berupaya membersihkan Pantai Melawai dari tumpahan minyak di Balikpapan. Sejak 3 April lalu, pemerintah se tempat menyatakan kondisi tanggap darurat pencemaran lingkungan.

Kapal kargo itu terbakar pada waktu yang hampir bersamaan dengan munculnya tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.

Sebelumnya Pertamina sempat membantah tumpahan minyak itu berasal dari fasilitas perusahaan itu. Namun, kepada pers di Balikapapan, Rabu sore, General Manager Pertamina Refinery Unit 5, Togar MP, menganulir pernyataannya.

"Minyak mentah milik Pertamina," ujar Togar seperti dilansir Tribun Kaltim.

Hak atas foto Instagram @Iienbarbie/via REUTERS
Image caption Kebakaran melanda Teluk Balikpapan, Sabtu (31/03), diduga akibat minyak yang menggenang di permukaan perairan itu.

Sementara itu Rabu siang tadi, gabungan organisasi yang bergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak berunjuk rasa di kantor Wali Kota Balikpapan.

Mereka menganggap Pemerintah Kota Balikpapan selama ini membiarkan sejumlah kasus minyak tumpah di perairan daerah itu berlalu tanpa ganti rugi atau pemidanaan.

Kejadian minyak tumpah yang menyebabkan lima orang meninggal dunia sejak Sabtu pekan lalu diklaim bukanlah yang pertama kali terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Selama ini masyarakat diam dan hanya diberi ruang untuk bersih-bersih. Kami harus turun untuk mengawal proses penegakan hukum," kata Topan Wamustopa, koordinator koalisi, seperti dilaporkan wartawan di Balikpapan, Debi Aditya.

Topan menuturkan, seiring proses penegakan hukum secara pidana terhadap perusahaan atau pelaku individual, pemerintah seharusnya juga menggugat ganti rugi atas pencemaran lingkungan yang terjadi.

Berdasarkan pasal 90 ayat (1) UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah berwenang meminta ganti rugi pada pelaku pencemaran.

Merujuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 13/2011, nilai ganti rugi itu dapat dihitung dari akumulasi biaya pemulihan lingkungan, kerugian ekosistem, serta kerugian masyarakat, terutama atas aset dan kesehatan pribadi.

"Kedatangan kami ini sebagai dorongan bahwa negara harus hadir dalam kasus ini," kata Topan.

Dalam catatan, pada Mei 2017, bekas tumpahan minyak juga pernah mencemari Pantai Monpera, Pantai Kumala hingga Pantai Banua Patra di Balikpapan.

Hak atas foto Antara Foto/Sheravim/via REUTERS
Image caption Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan diduga menewaskan lumba-lumba irawady atau pesut.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Balikpapan, Rahmad Masud, mengaku masih mendalami kasus minyak tumpah akhir pekan lalu.

Kepada massa pedemo, Rahmad juga membantah pimpinan Pemkot Balikpapan lebih sibuk mengurus agenda politik jelang Pilkada Kalimantan Timur, Juni mendatang.

"Sejak kejadian tanggal 31 Maret, kami tidak tinggal diam, kami bergerak melalui BPBD dan berkoordinasi dengan Pertamina, SKK Migas dan perusahaan perminyakan," ujarnya.

Rahmad berkata, Pemkot Balikpapan kini fokus membersihkan sisa minyak yang tumpah. Ditambahkannya, tim penanggulangan telah dibentuk dan diketuai Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Balikpapan, Sanggam Marihot.

"Serahkan ke aparat hukum. Transparansinya dalam proses, kita pakai azas praduga tidak bersalah. Belum ada fakta yang bersalah," kata Rahmad.

Hak atas foto Antara Foto/Sheravim/via REUTERS
Image caption Polisi mengambil contoh tumpahan minyak di Pantai Banua Patra, Balikpapan. Minyak yang tersebar di perairan kota itu mencapai lebih dari 400 barel.

Menurut Menteri LHK, Siti Nurbaya, minyak tumpah di Teluk Balikpapan mencapai 69,3 meter kubik atau 400 barel.

Siti berkata, tim gabungan lintas instansi akan memanfaatkan oil boom milik beberapa perusahaan untuk menggiring tumpahan minyak ke perairan dekat fasilitas Pertamina.

Selain itu, Siti menyebut tim gabungan itu juga tengah mengukur luas lokasi terdampak tumpahan minyak, termasuk ke Kabupaten Penajam Paser Utara.

Sumber: Google News | Berita 24 Kaltim

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »