www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

TGB sebagai cawapres: “Kita harus siap untuk mengabdi di manapun”

Posted by On 10.13

TGB sebagai cawapres: “Kita harus siap untuk mengabdi di manapun”

]]> TGB sebagai cawapres: “Kita harus siap untuk mengabdi di manapun”

TGB, Tuan Guru BajangHak atas foto Mehulika Sitepu
Image caption Sosok rel ijius yang dekat dengan Islam moderat dan konservatif ini dianggap dapat menarik suara kaum Muslim serta mewakili masyarakat non-Jawa.

Nama TGB, Tuan Guru Bajang, yang saat ini menjabat sebagai gubernur Nusa Tenggara Barat belakangan santer digadang-gadang menjadi calon wakil presiden dalam pemilu mendatang.

Sosok relijius yang dekat dengan Islam moderat dan konservatif ini dianggap dapat menarik suara kaum Muslim serta mewakili masyarakat non-Jawa.

Ditemui di Wisma NTB di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Muhammad Zainul Majdi yang sering dipanggil TGB, tampak santai meski tetap formal - ia mengenakan setelan jas dengan peci yang menjadi ciri khasnya - namun kakinya justru dibalut sepatu olahraga.

Perbincangan dengan wartawan BBC Mehulika Sitepu mengungkap kesiapannya menjadi cawapres dan terobosannya untuk menjawab apa yang dianggapnya merupakan masalah terbesar Indonesia saat ini.

  • Bursa cawapres Jokowi dan Prabowo: Dari AHY, Muhaimin, Sri Mulyani, Anies, Gatot, hingga Airlangga
  • Seperti SBY di periode kedua, Jokowi 'lebih aman' pilih cawapres teknokrat
  • Melihat 'amunisi' untuk babak kedua Prabowo vs Jokowi

Berikut petikan wawancara dengan TGB:

Nama Anda sudah banyak disebut-sebut, baik di kubu Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo. Siap tidak jika Anda masuk ke bursa cawapres?

Penyebutan nama dalam konteks positif selalu disyukuri Alhamdulillah. Bagi saya pribadi pencapaian sampai saat ini karunia Allah, tidak pernah saya bayangkan. Kalau disebut untuk sesuatu yang lebih besar, itu tidak pernah saya bayangkan juga. Tetapi ketika itu saya dengar, harapan itu saya simak, ya saya syukuri Alhamdulillah.

Dan rasanya dengan segala keterbatasan saya, kita harus siap untuk mengabdi dimanapun.

Apa kira-kira menurut Anda masalah terbesar Indonesia saat ini dan terobosan apa yang Anda siap bawa untuk menjadi cawapres?

Yang mengemuka mungkin beberapa waktu terakhir itu ada gejala mutual distrust, ada ketidakpercayaan satu dengan yang lain. Itu dipicu oleh beberapa kontestasi politik. Tugas kita untuk segera menyelesaikan itu dengan baik. Dan menurut saya khazanah kearifan kolektif kita sebagai bangsa di Indonesia itu cukup.

Apa yang menurut saya perlu untuk dikerjakan bersama-sama oleh kita: perbanyak perjumpaan. Tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh budaya, tokoh-tokoh agama dan siapapun yang memiliki nilai patronase di tengah masyarakat.

Saya pikir kalau para tokoh mengirim sinyal kuat pada masyarakat bahwa mereka suka persatuan, mereka commit pada hal-hal penting untuk republik ini, itu akan mengalirkan energi positif ke bawah yang luar biasa. Dan dengan demikian mutual distrust itu akan hilang.

Hak atas foto TGB.id
Image caption "Rasanya dengan segala keterbatasan saya, kita harus siap untuk mengabdi di manapun," jawab TGB saat ditanyakan apakah siap menjadi cawapres.

Anda sendiri banyak berjumpa baik dengan kubu Islam konservatif dan juga Islam moderat. Sebenarnya Anda berada di mana?

Kalau saya menganggap bahwa klasifikasi sosial itu kan tidak boleh rigid ya seperti dua tambah dua sama dengan empat. Saya tetap meyakini bahwa elemen Islam, mayoritas, dalam interaksi saya dengan banyak pihak bahkan dengan kelompok yang disebut sangat radikal sekalipun, ternyata radikalitas itu tidak selalu bersumber dari pemahaman. Radikalitas itu bisa bersumber dari perlakuan yang dia terima dalam jangka panjang.

Saya pernah ke pondok pesantren yang disebut paling radikal di NTB, di Bima. Pesantren itu tidak pernah mau mengangkat be ndera merah putih. Saya dalami, saya diskusi, yang sangat aneh adalah pimpinan pondok itu punya anak, dia menjadi pasukan Paskibraka. Bayangin, pondoknya tidak mau mengangkat bendera merah putih tapi anaknya kerjanya mengangkat bendera merah putih. Lalu saya dalami ternyata masalahnya adalah pondok itu tidak pernah mendapatkan perhatian. Saya bilang "Mulai saat ini kita salaman, Anda mendapatkan hak Anda, persis sama seperti sekolah-sekolah lain." Kita bersama-sama ke halaman, angkat bendera merah putih.

Tidak bisa kita mendekati fenomena radikalitas Islam itu hanya dengan kacamata kuda. Kita letakkan semua dalam satu keranjang. Diagnosa masing-masing kasus-kasus yang ada. Karena dengan mendiagnosa dengan benar, obatnya juga pasti benar. Tapi kalau keliru, yang tak radikal itu bisa jadi radikal.

Dan kalau ditanya saya di mana, saya adalah alumnus Al Azhar dan di dalam Al Azhar itu kita diajar moderasi Islam.

Hak atas foto Dok. Keluarga
Image caption "Kalau ditanya saya dimana, saya adalah alumnus Al Azhar dan di dalam Al Azhar itu kita diajar moderasi Islam," kata TGB.

Jadi kalau begitu Anda tidak akan memilih untuk bergabung dengan kubu yang lebih konservatif nanti?

Kalau di dalam pemahaman saya sebagai seorang Muslim semua kontestasi dalam politik ini "berlomba dalam kebajikan". Jadi tidak menegasikan, tidak menihilkan, tidak mempolarisasi, tapi ini kontestasi gagasan. Gagasan yang baik bisa muncul dari manapun. Bahkan di kelompok konservatif, apa di situ tidak ada orang yang cerdas? Yang punya gagasan untuk membangun republik dengan hebat, inovasi, kepeloporan?

Kelompok yang nonkonservatif, apa iya berarti semua gaga sannya terbaik? Menurut saya, perjumpaan antara kelompok ini harus terus diintensifkan dan sekali lagi, kontestasi politik letakkan sebagai kontestasi gagasan.

Namun tidak bisa dinafikkan saat ini ada dua kubu di Indonesia dan ini yang nanti cenderung dijadikan dasar untuk memilih dan bukan meritokrasi...

Menurut saya, memilih berdasarkan meritokrasi itu syarat utama untuk membangun masayrakat yang berkualitas. Jadi boleh saja bahasa dan bungkusannya kayak apa tetapi Anda semua dan kita semua tokoh historis. Rakyat bisa melihat kiprah dan semua yang kita lakukan sebelum ini, dan kemudian menjadi basis akan dipilih atau tidak.

Hak atas foto TGB.id
Image caption Lulusan universitas Al-Azhar di Mesir ini juga dikenal sebagai penceramah agama.

Anda sudah sering ditanyakan, pilih yang mana kubu bapak presiden atau penantangnya? Namun kenapa Anda tidak pernah mau menjawab?

Bahan-bahan untuk menjawab itu belum ada, prosesnya juga belum ada. Jadi segala sesuatu masih terus berjalan tapi yang ingin saya sampaikan, pilpres ini sudah cukuplah. Kalau misalnya pada 2014 lalu kontestasinya personal, ada destruktifnya, lima tahun ayo kita belajarlah. Kita letakkan dalam kontestasi gagasan dan pada rekam jejak.

Sudah ada kubu yang mendatangi?

Beliau-beliau itu kan orang yang sangat saya hormati. Orang-orang yang dekat dengan beliau juga banyak sahabat-sahabat saya. Orang-orang yang dekat dengan Pak Jokowi sahabat-sahabat saya, orang yang dekat dengan Pak Prabowo juga sahabat-sahabat. Semua sahabat.

Sumber: Google News | Berita 24 NTB

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »